Categories
Umum

Pengalaman Merantau ke Jepang

Pengalaman Merantau ke Jepang – Hampir sepuluh tahun saya tinggal di Jepang. Awalnya, excited karena bisa tinggal di luar negeri, namun saya sering sedih juga karena harus jauh dari keluarga. Sekarang, meskipun sudah terbiasa tinggal di Jepang, saya tetap rindu Indonesia. walnya, ketika membayangkan pergi belajar ke luar negeri memang sangatlah menarik dan menyenangkan. Namun, saya sadar, ketika memutuskan pergi ke Jepang, artinya saya harus meninggalkan rumah dan keluarga untuk mewujudkannya. Selama empat tahun saya berada di Jepang. Ketika kuliah saya selesai di pada 2009, saya memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Namun, sepertinya saya memang tidak bisa jauh-jauh dari Jepang dan dunianya. Saya menikah dengan pria asli Jepang, seorang teman waktu sama-sama menuntut ilmu di Ritsumeikan Asia Pacific University. Saya pun harus ikut suami untuk menetap di sebuah kota bernama Suita, di prefektur Osaka. Setiap kali harus meninggalkan Indonesia, rasanya bercampur aduk antara sedih dan senang. Sedih karena harus pergi jauh dan tidak bisa sering-sering bertemu langsung dengan keluarga di Indonesia. Tapi senang dan bersemangat karena membayangkan akan ada banyak pengalaman dan tantangan baru yang akan dihadapi. Di Jepang tidak ada melinjo Awal pindah ke Jepang, saya menamakannya sebagai fase bulan madu karena semua terlihat indah dan menarik. Semua makanannya enak, orangnya ramah, jalanannya bersih, dan kendaraan umumnya nyaman.

Selain itu, saya juga mengalami banyak hal-hal dan pengalaman baru yang tidak bisa ditemui di Jakarta, misalnya seperti menikmati pemandangan ketika pergantian musim (daun berguguran), pengalaman bermain salju ketika musim dingin, atau pengalaman datang ke acara festival musim panas sambil memakai yukata (sejenis kimono untuk acara nonformal). Lalu, saya mengalami fase negosiasi ketika saya menemui banyak hambatan. Karena belum terbiasa dengan lingkungan baru dan harus bertemu orang-orang yang tidak akrab setiap hari, saya merasa kesepian dan kangen dengan keluarga. Belum lagi hambatan bahasa, misalnya ketika berbelanja kebutuhan sehari-hari saya tidak bisa membaca nama produk tersebut dan belum bisa bertanya ke penjaga supermarket sehingga kadang-kadang salah membeli. Seiring berjalannya waktu, saya mulai membentuk rutinitas. Selain mengikuti kelas, saya mendaftar dan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler bernama Arauma dan Eisa yang merupakan ekstrakurikuler tarian tradisional Jepang. Di kedua ekstrakurikuler tersebut, saya mulai bisa menerima kebiasaan dan budaya Jepang dengan lebih positif. Pada akhirnya, saya bisa merasa nyaman dalam berinteraksi dan beraktivitas di Jepang seperti ketika saya tinggal di Indonesia.

Meskipun begitu, ada kalanya saya homesick dan rindu Indonesia. Bagaimanapun juga, lebih enak tinggal di negeri sendiri. Selain keluarga, saya kangen berbicara berjam-jam dengan teman-teman saya dalam bahasa Indonesia. Mengobrol apa pun dengan mereka. Walaupun kadangkadang saya menghubungi mereka melalui layanan instant messenger, tapi biasanya hanya seperlunya saja lalu selesai. Beberapa bulan sekali, saya juga sering rindu makan masakan rumahan Indonesia yang bahanbahannya tidak dijual di Jepang, misalnya sambal terasi karena di sini tidak ada cabai. Makanan lain yang saya sering rindukan adalah sayur asem. Sedih sekali karena di Jepang tidak dijual beberapa bahan utama sayuran itu seperti labu siam dan melinjo. Saya sering juga kangen panasnya Jakarta kalau di sini sedang musim panas atau musim dingin, tapi tanpa polusinya. Apakah aneh jika saya merindukan panasnya Jakarta? Bagi saya, panas di Jakarta jauh lebih baik ketimbang musim panas di Jepang. Matahari Jepang bisa sangat terik dan menusuk kulit, tidak lembab seperti di Jakarta. Untuk mengatasi kerinduan saya akan masakan Indonesia, saya mencoba untuk masak dengan menggunakan resep yang saya temukan di internet. Namun apabila bahannya sulit dicari, saya dan suami pergi ke restoran makanan Indonesia di Osaka, ya… walaupun rasanya kadang sedikit berbeda dengan yang asli. Setiap tahun, saya usahakan untuk pulang ke Indonesia.

Mengobati rindu saya akan panasnya maupun dengan teman-teman dan keluarga. Jika sedang tidak bisa pulang, saya yang mengundang mereka untuk mengunjungi Jepang. Saya amat senang ketika mereka berkunjung ke sini. Saya sendiri belum tahu kapan bisa permanen tinggal di Indonesia lagi karena saya ikut suami yang bekerja di sini. Untungnya, saat ini saya masuk ke dalam salah satu komunitas orang Indonesia di Osaka dan bertemu hampir setiap minggu dengan mereka, sehingga rasa kesepian dan kerinduan saya akan Indonesia sedikit terobati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *