TAK NYAMAN TAMBUN

DION Wiyoko sempat merasa tidak percaya diri lantaran badannya melar. Tapi, apa daya, ia dituntut menjadi lebih tambun untuk memerankan salah seorang pendiri Kaskus, Ken Dean Lawadinata, dalam film Sundul Gan: The Story of Kaskus. Dalam waktu satu bulan, aktor 31 tahun ini berhasil menaikkan berat badannya 10 kilogram, dari 80 kilogram menjadi 90 kilogram. Akibatnya, ia tak bisa lagi mengenakan celana nomor 31 yang biasa ia pakai.

“Celana jadi pakai nomor 33. Itu pertama kali seumur hidup,” kata Dion ketika ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa dua pekan lalu. Untuk menambah berat badannya, Dion makan apa pun yang terlintas di benaknya. Dalam sehari, ia bisa makan besar hingga enam kali, tak jarang porsinya ganda. Ia juga ngemil setiap dua jam. Segala jenis makanan disantapnya, dari martabak, mi instan, es krim, cokelat, hingga makanan cepat saji.

Perutnya perlahan membuncit. Dion mulai merasa tubuhnya mudah lelah dan gampang berkeringat. Ia pun enggan memotret diri karena merasa tak ada bagian tubuhnya yang enak dipandang. “Sempat kena sindrom enggak percaya diri karena harus botak dan rasanya bentuk badan gemuk banget,” tuturnya. Setelah proses pengambilan gambar selesai, ia butuh waktu tiga bulan untuk menurunkan bobot tubuhnya dengan kembali mengatur pola makan dan giat berolahraga.

NAMA samarannya ”Prapanca”. Ia menggambarkan dirinya sebagai lelaki yang tak disukai para perempuan istana, tak fasih bicara, parasnya tak riang. Tapi ia penulis reportase pertama dalam sejarah Indonesia: Desawarnana, yang rampung ditulisnya pada 1365, adalah laporan kunjungan perjalanan darat Hayam Wuruk, Raja Majapahit, ke pelbagai wilayah kekuasaannya. Sayangnya, Prapanca seorang pencatat yang terbatas. Kakawinnya lebih merupakan rekaman kesan-kesan tentang tamasya dan tontonan dari tempat ke tempat.

Desawarnana adalah travelogue abad ke-14. Ia bukan catatan peristiwa-peristiwa. Mungkin karena Prapanca bukan sepenuhnya orang dalam istana. Kakawin yang hilang dan baru ditemukan lebih dari 500 tahun kemudian di Lombok ini ia tulis setelah ia tersingkir dari pusat kekuasaan. Diduga ia menyelesaikannya di sebuah desa di Bali.

Deskripsi tentang dirinya di akhir kakawin menggambarkan profil seseorang yang tak merasa mampu bergabung dengan para penyair lain yang menulis selokaseloka untuk memuja Raja. Bisa jadi ini menandai kepahitan dan kekecewaan yang dicoba disembunyikannya.

Website : kota-bunga.net

ATLET NO, OLAHRAGA YES

BANYAK orang tua yang menginginkan anaknya mengikuti jejak karier mereka. Tapi tidak demikian pasangan emas Olimpiade 1992, Alan Budikusuma dan Susi Susanti. Mereka justru tak rela tiga anaknya menjadi atlet bulu tangkis. “Kami arahkan anak-anak menempuh pendidikan formal saja,” ujar Susi di kantor perusahaan peralatan bulu tangkis miliknya, Astec, di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu dua pekan lalu.

Susi, 45 tahun, punya alasan kuat. Juara All England empat kali ini tak rela anakanaknya terbebani harapan pencinta olahraga tepok bulu yang ingin prestasi mereka setara dengan Alan-Susi. Lagi pula, menurut Alan, 48 tahun, masa depan atlet belum menjanjikan. “Pemerintah belum memberikan apresiasi yang sepadan untuk atlet berprestasi,” Alan menjelaskan. Namun darah bulu tangkis rupanya sudah mengalir ke anak-anaknya. Ketiga buah hati mereka tetap saja piawai bermain badminton, meski tidak dilatih secara khusus di klub.

“Kami kenalkan bulu tangkis untuk olahraga, keahlian, dan kesehatan saja,” tutur Susi. Perempuan asal Tasikmalaya ini mengatakan, selebihnya, kakek anak-anaknyalah yang rutin melatih mereka dua kali sepekan. Bahkan putri sulungnya, Laurencia Averina, 17 tahun, menjadi salah satu pemain andalan di sekolahnya, Curtin College, Perth, Australia. Tapi, menurut Susi, belum ada prestasi menonjol yang ditunjukkan putrinya itu.

“Sekolah bahkan tak tahu bahwa ia anak peraih medali emas Olimpiade,” kata Susi, terbahak. BERJUANG UNTUK KARATE WAKIL Ketua Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan Agus Santoso, 55 tahun, tampak bersemangat ketika menunjukkan beberapa gerakan karate kepada Tempo di kantornya di Jakarta Pusat, Rabu pekan lalu. Beberapa kali ia mengulang gerakannya sembari menghitung dalam bahasa Jepang: “Ichi, ni, san, shi, go….” Ia pun tak ragu meminta bantuan salah seorang anggota staf keamanan di kantornya, yang juga karateka, untuk memastikan gerakan dan posisinya sempurna. “Biar bisa jadi contoh,” tutur Agus, yang baru saja didaulat menjadi Sekretaris Jenderal Federasi Karate Asia Tenggara (SEAKF) periode 2016-2020.

Ia mengatakan sepuluh federasi karate negara Asia Tenggara memilihnya secara aklamasi di Port Dickson, Malaysia, awal Juni lalu. Ia merasa tanggung jawabnya cukup berat. Sebab, dalam periode kepengurusannya, akan berlangsung SEA Games 2017 di Kuala Lumpur dan Asian Games 2018 di Indonesia. Ia juga harus melakukan lobi agar karate dipertandingkan dalam Olimpiade 2020 di Tokyo.

Menurut Agus, ia terpilih menjadi Sekjen SEAKF karena dianggap berhasil memimpin Bandung Karate Club sejak 2014. Klub itu aktif mengikuti kejuaraan tingkat lokal dan internasional. Dalam kongres Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI) 2014, ia diusulkan mewakili Indonesia dalam pemilihan Sekjen SEAKF.

“Padahal saya belum tergabung dalam FORKI. Saya hanya mengurus perguruan,” ucap Agus, yang dianugerahi Dan (tingkatan sabuk hitam) IV ketika menjadi pemimpin Bandung Karate Club. Setelah setahun lebih memimpin klub itu, ia pun memegang Dan VI.