Categories
Umum

Gerindra Mengklaim Didukung PKS

Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, menemui Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera, Salim Segaf Al-Jufri, untuk membahas pemilihan presiden 2019, kemarin. Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Ahmad Muzani mengklaim pertemuan di rumah Salim, kawasan Pasar Minggu Jakarta, itu membuahkan hasil bahwa PKS akan menerima keputusan jika kadernya tak dipilih menjadi bakal calon wakil presiden Prabowo. “Pokoknya PKS legawa,” kata Muzani, di Jakarta, kemarin. Prabowo dengan didampingi sejumlah petinggi partainya juga menggelar pertemuan tertutup dengan elite PKS. “Tanda kebaikan bahwa PKS bersama Gerindra dan Gerindra bersama PKS,” kata Muzani.

Lobi Prabowo ke Salim ini berlangsung setelah Presiden PKS Sohibul Iman menggertak Gerindra. PKS, kata Sohibul Iman, tak akan mendukung jika Prabowo tak memilih rekomendasi Ijtimak Ulama di Hotel Menara Peninsula, akhir bulan lalu. Ijtimak Ulama merekemondasikan Prabowo memiliki dua opsi calon wakil presiden: Salim Segaf atau dai Abdul Somad. Sebelumnya, PKS juga telah menyodorkan sembilan kadernya untuk posisi calon presiden maupun calon wakil presiden. Salim Segaf merupakan satu di antaranya. Hingga Selasa lalu, PKS menyatakan masih berkukuh ingin mengikuti rekomendasi Ijtimak Ulama. “Kami mengapresiasi, menyetujui, dan mengawal hasil rekomendasi Ijtimak Ulama,” kata Sohibul Iman dalam konferensi pers selepas sidang istimewa Majelis Syuro di kantor Dewan Pimpinan Pusat PKS di Jalan T.B. Simatupang, Jakarta

Categories
Umum

Mahfud Dinilai Mewakili Kalangan Religius dan Nasionalis

JAKARTA — Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Muhammad Mahfud Md., digadang-gadang menjadi kandidat terkuat untuk mendampingi Joko Widodo dalam pemilihan presiden 2019. Ketua Dewan Pimpinan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Hamka Haq, mengatakan Mahfud Md. masuk daftar lima kandidat calon wakil presiden yang tersaring. Menurut dia, peluang Mahfud membesar setelah koalisi partai melihat perlunya calon wakil presiden dari kalangan religius dan nasionalis. “Jadi, peluang Pak Mahfud besar,” ujar Hamka, di Jakarta, kemarin. Meski begitu, Hamka mengatakan calon wakil presiden untuk Jokowi masih belum bisa dipastikan sampai menunggu pembahasan di tingkat ketua umum partai politik. Hamka mengatakan partainya tak akan mempersoalkan jika Jokowi memilih Mahfud sebagai calon wakil presiden.

Sebab, kata dia, Mahfud bisa diterima berbagai kalangan, baik dari partai politik maupun kelompok Islam. Nama Mahfud Md. Digadang-gadang kuat setelah Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan Muhammad Romahurmuziy mengunggah cuitan di akun Twitter-nya ihwal bakal calon wakil presiden Jokowi. Kata Romi, panggilan Romahurmuziy, calon wakil presiden Jokowi bakal berasal dari kalangan nasionalis-religius, mewakili organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, dan berpengalaman dalam jabatan publik. Ia menyebutkan nama calon tak akan jauh dari 10 nama yang pernah disebutnya. Semula, Romi mengungkapkan, ketua umum partai politik bakal berkumpul bersama Jokowi di Istana Negara tadi malam.

Menurut dia, pertemuan itu diadakan untuk membahas pemantapan formasi koalisi dan mengumumkan nama calon wakil presiden. “Ini bagian dari sense of belonging, bagian kebersamaan, soliditas, dan kekompakan,” ujar dia. Namun pertemuan itu urung terjadi. Salah satu petinggi partai koalisi pendukung Jokowi menuturkan Mahfud hampir bisa dipastikan menjadi pendamping inkumben. Nama Mahfud menguat ketika Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Gerindra, yang berpeluang menjadi kompetitor utama Jokowi, membuka kemungkinan untuk menggandeng Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera, Salim Segaf Al-Jufri, atau Komandan Satuan Tugas Bersama Pemenangan Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono, sebagai cawapres. “Kalau di sana pasangan PS-AHY, di sini ada Jokowi-MMD,” kata dia. Selain itu, ia menuturkan, Mahfud bisa menjadi alternatif untuk koalisi Jokowi guna menjaga formasi partai koalisi pendukungnya. Sejumlah partai dalam koalisi, kata dia, tak menyetujui pilihan calon wakil presiden yang berasal dari kalangan partai politik. “Standing point Mahfud biar fair,” ucap dia. Sekretaris Jenderal Partai NasDem, Johnny G. Platte, tak mengetahui ihwal pertemuan ketua umum tersebut.

Ia pun tak ambil pusing soal munculnya nama Mahfud Md. sebagai pendamping Jokowi. “Kami sudah serahkan ke Pak Jokowi. Kami tidak ingin berspekulasi,” kata dia. Wakil Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa, Daniel Johan, mengatakan partainya tetap yakin Jokowi bakal memilih Ketua Umum Muhaimin Iskandar sebagai calon wakil presiden. Partai, kata dia, hakulyakin Jokowi akan mempertimbangkan rekomendasi para kiai Nahdlatul Ulama yang mendorong Muhaimin untuk menjadi cawapres. “Berdasarkan hitungan bumi dan langit para kiai, Cak Imin akan membawa kemenangan untuk Jokowi,” ujar dia.

Categories
Umum

Pengalaman Merantau ke Jepang

Pengalaman Merantau ke Jepang – Hampir sepuluh tahun saya tinggal di Jepang. Awalnya, excited karena bisa tinggal di luar negeri, namun saya sering sedih juga karena harus jauh dari keluarga. Sekarang, meskipun sudah terbiasa tinggal di Jepang, saya tetap rindu Indonesia. walnya, ketika membayangkan pergi belajar ke luar negeri memang sangatlah menarik dan menyenangkan. Namun, saya sadar, ketika memutuskan pergi ke Jepang, artinya saya harus meninggalkan rumah dan keluarga untuk mewujudkannya. Selama empat tahun saya berada di Jepang. Ketika kuliah saya selesai di pada 2009, saya memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Namun, sepertinya saya memang tidak bisa jauh-jauh dari Jepang dan dunianya. Saya menikah dengan pria asli Jepang, seorang teman waktu sama-sama menuntut ilmu di Ritsumeikan Asia Pacific University. Saya pun harus ikut suami untuk menetap di sebuah kota bernama Suita, di prefektur Osaka. Setiap kali harus meninggalkan Indonesia, rasanya bercampur aduk antara sedih dan senang. Sedih karena harus pergi jauh dan tidak bisa sering-sering bertemu langsung dengan keluarga di Indonesia. Tapi senang dan bersemangat karena membayangkan akan ada banyak pengalaman dan tantangan baru yang akan dihadapi. Di Jepang tidak ada melinjo Awal pindah ke Jepang, saya menamakannya sebagai fase bulan madu karena semua terlihat indah dan menarik. Semua makanannya enak, orangnya ramah, jalanannya bersih, dan kendaraan umumnya nyaman.

Selain itu, saya juga mengalami banyak hal-hal dan pengalaman baru yang tidak bisa ditemui di Jakarta, misalnya seperti menikmati pemandangan ketika pergantian musim (daun berguguran), pengalaman bermain salju ketika musim dingin, atau pengalaman datang ke acara festival musim panas sambil memakai yukata (sejenis kimono untuk acara nonformal). Lalu, saya mengalami fase negosiasi ketika saya menemui banyak hambatan. Karena belum terbiasa dengan lingkungan baru dan harus bertemu orang-orang yang tidak akrab setiap hari, saya merasa kesepian dan kangen dengan keluarga. Belum lagi hambatan bahasa, misalnya ketika berbelanja kebutuhan sehari-hari saya tidak bisa membaca nama produk tersebut dan belum bisa bertanya ke penjaga supermarket sehingga kadang-kadang salah membeli. Seiring berjalannya waktu, saya mulai membentuk rutinitas. Selain mengikuti kelas, saya mendaftar dan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler bernama Arauma dan Eisa yang merupakan ekstrakurikuler tarian tradisional Jepang. Di kedua ekstrakurikuler tersebut, saya mulai bisa menerima kebiasaan dan budaya Jepang dengan lebih positif. Pada akhirnya, saya bisa merasa nyaman dalam berinteraksi dan beraktivitas di Jepang seperti ketika saya tinggal di Indonesia.

Meskipun begitu, ada kalanya saya homesick dan rindu Indonesia. Bagaimanapun juga, lebih enak tinggal di negeri sendiri. Selain keluarga, saya kangen berbicara berjam-jam dengan teman-teman saya dalam bahasa Indonesia. Mengobrol apa pun dengan mereka. Walaupun kadangkadang saya menghubungi mereka melalui layanan instant messenger, tapi biasanya hanya seperlunya saja lalu selesai. Beberapa bulan sekali, saya juga sering rindu makan masakan rumahan Indonesia yang bahanbahannya tidak dijual di Jepang, misalnya sambal terasi karena di sini tidak ada cabai. Makanan lain yang saya sering rindukan adalah sayur asem. Sedih sekali karena di Jepang tidak dijual beberapa bahan utama sayuran itu seperti labu siam dan melinjo. Saya sering juga kangen panasnya Jakarta kalau di sini sedang musim panas atau musim dingin, tapi tanpa polusinya. Apakah aneh jika saya merindukan panasnya Jakarta? Bagi saya, panas di Jakarta jauh lebih baik ketimbang musim panas di Jepang. Matahari Jepang bisa sangat terik dan menusuk kulit, tidak lembab seperti di Jakarta. Untuk mengatasi kerinduan saya akan masakan Indonesia, saya mencoba untuk masak dengan menggunakan resep yang saya temukan di internet. Namun apabila bahannya sulit dicari, saya dan suami pergi ke restoran makanan Indonesia di Osaka, ya… walaupun rasanya kadang sedikit berbeda dengan yang asli. Setiap tahun, saya usahakan untuk pulang ke Indonesia.

Mengobati rindu saya akan panasnya maupun dengan teman-teman dan keluarga. Jika sedang tidak bisa pulang, saya yang mengundang mereka untuk mengunjungi Jepang. Saya amat senang ketika mereka berkunjung ke sini. Saya sendiri belum tahu kapan bisa permanen tinggal di Indonesia lagi karena saya ikut suami yang bekerja di sini. Untungnya, saat ini saya masuk ke dalam salah satu komunitas orang Indonesia di Osaka dan bertemu hampir setiap minggu dengan mereka, sehingga rasa kesepian dan kerinduan saya akan Indonesia sedikit terobati.