Categories
Tekno

Apacer Tawarkan Tool yang Lebih Baik dari S.M.A.R.T

Di akhir tahun 2013 lalu, Apacer meluncurkan SSDWidget yang merupakan sebuah real-time monitoring dan diagnosis software tool yang memenuhi 3A (Any time, Any where, Any device). Dengan 3A ini, SSDWidget diklaim Apacer lebih baik dari S.M.A.R.T (Self-Monitoring, Analysis, and Reporting Technology) yang umum digunakan pada hard disk dan SSD sampai saat ini. Menurut perkiraan, pasar media simpan untuk perusahaan akan terus bertumbuh 3,9% setiap tahunnya. Pada tahun 2020, volume data secara global diprediksi akan bertambah lima puluh kali lipat dibandingkan sekarang. Tempat penyimpanannya pun tidak lagi terpusat di satu lokasi. Ini semua membuat seorang manajer TI harus bisa mengatur data dalam volume besar itu termasuk memonitor dan mendiagnosis setiap media simpan (dalam hal ini SSD) yang digunakan oleh perusahaan bersangkutan secara 3A.

Di sinilah fungsi Apacer SSDWidget. Ia membolehkan pemantauan dan proses diagnosis setiap SSD tadi secara 3A. Sebagai catatan, S.M.A.R.T yang sudah hadir sejak dulu ditujukan untuk sebuah komputer saja, bukan untuk 3A ini. Dengan Apacer SSDWidget seorang manajer TI bisa terhubung ke setiap SSD yang terdapat di perusahaan tersebut dan memeriksa kondisi setiap SSD itu selama terkoneksi ke internet. Tidak hanya melalui aplikasi untuk PC serta aplikasi untuk smartphone dan komputer tablet, melalui web browser hal ini pun dimungkinkan. Jadi kapan saja, di mana saja, setiap SSD bisa diperiksa. “Manajer bisa menghubungkan sejumlah SSD pada perusahaan secara bersamaan, memonitor secara instan melalui web browser atau mobile app, dan mengintegrasikan berbagai atribut seperti jumlah penghapusan, jumlah unpredicted power failure, jumlah kegagalan sinyal SATA, dan jumlah kegagalan ECC,” sebut Robert Lee (Director of the Product Development Division Apacer). Selain itu, versi client dari Apacer SSDWidget membolehkan pemindaian dari SSD termasuk hadirnya feature data matching scan yang memastikan kebenaran dari data yang disimpan. Jadi bila ada data yang rusak, bisa segera diketahui.

Categories
Tekno

Notebook Baru di Tahun Baru

https://teknorus.com/ – Ketika merilis iPad terbaru di Oktober lalu, Apple sebenarnya juga mengumumkan pembaruan di jajaran produk Macbook Pro-nya. Notebook ini memiliki layar 2880×1800 pixel yang oleh Apple disebut sebagai Retina Display. Meski menggunakan resolusi setinggi itu, ternyata Apple berani menjanjikan daya tahan baterai sampai 9 jam. Kok bisa? Salah satu rahasianya adalah penggunaan prosesor Intel Core 4th Generation atau yang biasa disebut Intel Haswell.

Banyak Pilihan

Intel Haswell sendiri telah diluncurkan sejak pertengahan 2013 kemarin. Namun baru belakangan ini notebook-notebook berbasis Intel Haswell membanjiri pasaran. Tidak cuma Apple, semua produsen notebook kini sudah merilis notebook berbasis Intel Haswell. Acer dengan Aspire E1-472G, Asus dengan Vivobook S451, Lenovo dengan Ideapad Yoga 2, dan masih banyak lagi. Anda mungkin bertanya, bagaimana mengetahui apakah sebuah notebook telah menggunakan Intel Haswell? Cara paling mudah adalah dengan melihat angka di depan prosesor. Intel Haswell umumnya dimulai dengan angka 4, seperti Intel Core i3-4020Y, Core i5- 4200U, atau Core i7-3630WM. Anda mungkin juga memerhatikan, inisial belakang masing-masing prosesor di atas berbeda. Itu dikarenakan ada beberapa kelas prosesor dalam satu keluarga Intel Haswell. Ada kelas M untuk menandakan kelas mobile, Q untuk Quad Core, U untuk prosesor rendah daya (ultra low power) dan Y untuk prosesor yang berdaya lebih rendah lagi (extreme low power).

Banyak Perbaikan

Di atas kertas, Intel Haswell sebenarnya masih menggunakan fabrikasi 22nm— sama seperti yang digunakan prosesor Intel sebelumnya, Ivy Bridge. Namun jika ditilik lebih lanjut, Intel Haswell sesungguhnya menandai perubahan flosof prosesor Intel yang kini mengedepankan efsiensi daya serta kemampuan grafs onboard yang lebih baik. Efsiensi daya dilakukan dengan berbagai cara. Contohnya mengadopsi teknik independent frequency domain sehingga setiap komponen di dalam prosesor (seperti core, ring interconnect, sampai chip grafs) memiliki frekuensi sendiri. Intel juga memperkenalkan mode idle (C-state) yang lebih agresif sehingga komponen yang tidak digunakan bisa lebih cepat dimatikan. Kedengarannya memang simpel, namun di dunia prosesor yang tiap milliwatt-nya begitu berharga, cara yang terdengar sederhana ini bisa menurunkan daya secara signifkan. Pengujian Digital Trends menunjukkan, daya tahan notebook berbasis Intel Haswell meningkat 50% di pengujian Peacekeeper (menggunakan browser) dan Reader’s Test (semi idle). Sedangkan untuk grafs onboard, perbaikan dilakukan dengan menambahkan EU (Execution Unit) di dalam chip tersebut. Jumlahnya sendiri tergantung tipe, karena Intel Haswell memiliki beberapa kelas chip grafs. Pengujian kami menunjukkan, peningkatan kinerja grafs yang terjadi mencapai 10% dibanding prosesor generasi sebelumnya. Pendek kata, PC berbasis Intel Haswell menawarkan perbaikan di sisi kecepatan, daya tahan baterai, serta kemampuan grafs. Enaknya lagi, notebook berbasis Intel Haswell pun terbilang memiliki harga terjangkau, seperti Acer Aspire E1-472G (Rp.6,5 juta). Jadi jika di tahun baru ini Anda mencari notebook, ada baiknya Anda memastikan notebook tersebut sudah menggunakan Intel Haswell