ATLET NO, OLAHRAGA YES

ATLET NO, OLAHRAGA YES

BANYAK orang tua yang menginginkan anaknya mengikuti jejak karier mereka. Tapi tidak demikian pasangan emas Olimpiade 1992, Alan Budikusuma dan Susi Susanti. Mereka justru tak rela tiga anaknya menjadi atlet bulu tangkis. “Kami arahkan anak-anak menempuh pendidikan formal saja,” ujar Susi di kantor perusahaan peralatan bulu tangkis miliknya, Astec, di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu dua pekan lalu.

Susi, 45 tahun, punya alasan kuat. Juara All England empat kali ini tak rela anakanaknya terbebani harapan pencinta olahraga tepok bulu yang ingin prestasi mereka setara dengan Alan-Susi. Lagi pula, menurut Alan, 48 tahun, masa depan atlet belum menjanjikan. “Pemerintah belum memberikan apresiasi yang sepadan untuk atlet berprestasi,” Alan menjelaskan. Namun darah bulu tangkis rupanya sudah mengalir ke anak-anaknya. Ketiga buah hati mereka tetap saja piawai bermain badminton, meski tidak dilatih secara khusus di klub.

“Kami kenalkan bulu tangkis untuk olahraga, keahlian, dan kesehatan saja,” tutur Susi. Perempuan asal Tasikmalaya ini mengatakan, selebihnya, kakek anak-anaknyalah yang rutin melatih mereka dua kali sepekan. Bahkan putri sulungnya, Laurencia Averina, 17 tahun, menjadi salah satu pemain andalan di sekolahnya, Curtin College, Perth, Australia. Tapi, menurut Susi, belum ada prestasi menonjol yang ditunjukkan putrinya itu.

“Sekolah bahkan tak tahu bahwa ia anak peraih medali emas Olimpiade,” kata Susi, terbahak. BERJUANG UNTUK KARATE WAKIL Ketua Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan Agus Santoso, 55 tahun, tampak bersemangat ketika menunjukkan beberapa gerakan karate kepada Tempo di kantornya di Jakarta Pusat, Rabu pekan lalu. Beberapa kali ia mengulang gerakannya sembari menghitung dalam bahasa Jepang: “Ichi, ni, san, shi, go….” Ia pun tak ragu meminta bantuan salah seorang anggota staf keamanan di kantornya, yang juga karateka, untuk memastikan gerakan dan posisinya sempurna. “Biar bisa jadi contoh,” tutur Agus, yang baru saja didaulat menjadi Sekretaris Jenderal Federasi Karate Asia Tenggara (SEAKF) periode 2016-2020.

Ia mengatakan sepuluh federasi karate negara Asia Tenggara memilihnya secara aklamasi di Port Dickson, Malaysia, awal Juni lalu. Ia merasa tanggung jawabnya cukup berat. Sebab, dalam periode kepengurusannya, akan berlangsung SEA Games 2017 di Kuala Lumpur dan Asian Games 2018 di Indonesia. Ia juga harus melakukan lobi agar karate dipertandingkan dalam Olimpiade 2020 di Tokyo.

Menurut Agus, ia terpilih menjadi Sekjen SEAKF karena dianggap berhasil memimpin Bandung Karate Club sejak 2014. Klub itu aktif mengikuti kejuaraan tingkat lokal dan internasional. Dalam kongres Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI) 2014, ia diusulkan mewakili Indonesia dalam pemilihan Sekjen SEAKF.

“Padahal saya belum tergabung dalam FORKI. Saya hanya mengurus perguruan,” ucap Agus, yang dianugerahi Dan (tingkatan sabuk hitam) IV ketika menjadi pemimpin Bandung Karate Club. Setelah setahun lebih memimpin klub itu, ia pun memegang Dan VI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *